Ketika itu seorang pria menaiki sebuah kapal yang sudah penuh
muatan. Dia adalah satu di antara beberapa penumpang ilegal. Karena
kapal itu dirasa tak stabil para penumpang pun sepakat menyisihkan yang
tak ber-'tiket'.
Pria yang baru saja lari dari tanggung jawab mengajak masyarakat kepada kebaikan itu namanya terus keluar dalam undian meskipun telah diulang sebanyak 3 kali sehingga harus menceburkan diri ke air karena kapal sudah tak lagi tertambat di dermaga. Dikutip dari berbagai sumber, kala itu bulan sedang tak bersinar, sedangkan gelombang sedang tinggi dan angin tengah berhembus kencang.
Rasul kota Ninevah, Irak itu telah berdiri di pinggir kapal, sebelum melompat ia sempatkan mengingat dan menyebut-Nya. Yunus terus bertasbih ketika sudah sampai di laut ganas itu. Paus yang menemukan Yunus menelannya lantas berenang ke dasar laut. Dalam kondisi ini Yunus membayangkan kematiannya, namun lidahnya tetap menjaga pujian terhadap-Nya.
Seperti disebutkan dalam kitab suci umat Islam, maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.
Empat puluh hari kemudian barulah nabi yang disebut dalam Alquran sebagai Dzun Nun ini dimuntahkan oleh ikan besar itu di sebuah pulau terpencil. Kala itu kondisinya tengah kepanasan seperti terbakar karena kandungan asam dalam tubuh ikan paus tersebut. Namun, Yunus mampu menahan rasa sakit itu sembari megucapkan pujian pada-Nya, meskipun sempat berteriak-teriak kesakitan.
Kisah mengenai Nabi Yunus AS dapat kita temui dalam Alquran surat al-Shaaffaat [37] ayat 139-148 serta surah Al-Anbiyaa' [21] ayat 87.
Pria yang baru saja lari dari tanggung jawab mengajak masyarakat kepada kebaikan itu namanya terus keluar dalam undian meskipun telah diulang sebanyak 3 kali sehingga harus menceburkan diri ke air karena kapal sudah tak lagi tertambat di dermaga. Dikutip dari berbagai sumber, kala itu bulan sedang tak bersinar, sedangkan gelombang sedang tinggi dan angin tengah berhembus kencang.
Rasul kota Ninevah, Irak itu telah berdiri di pinggir kapal, sebelum melompat ia sempatkan mengingat dan menyebut-Nya. Yunus terus bertasbih ketika sudah sampai di laut ganas itu. Paus yang menemukan Yunus menelannya lantas berenang ke dasar laut. Dalam kondisi ini Yunus membayangkan kematiannya, namun lidahnya tetap menjaga pujian terhadap-Nya.
Seperti disebutkan dalam kitab suci umat Islam, maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.
Empat puluh hari kemudian barulah nabi yang disebut dalam Alquran sebagai Dzun Nun ini dimuntahkan oleh ikan besar itu di sebuah pulau terpencil. Kala itu kondisinya tengah kepanasan seperti terbakar karena kandungan asam dalam tubuh ikan paus tersebut. Namun, Yunus mampu menahan rasa sakit itu sembari megucapkan pujian pada-Nya, meskipun sempat berteriak-teriak kesakitan.
Kisah mengenai Nabi Yunus AS dapat kita temui dalam Alquran surat al-Shaaffaat [37] ayat 139-148 serta surah Al-Anbiyaa' [21] ayat 87.
0 komentar:
Post a Comment