Peningkatan tekanan darah merupakan permasalahan yang paling besar,
yaitu sebesar 62% kemudian stroke sebesar 49%. Dan asupan garam yang
tinggi merupakan faktor utama peningkatan tekanan darah (He &
Gregor, 2009). Jadi, ada alasannya mengapa menyuruh orang-orang yang
didiagnosis hipertensi (tekanan darah tinggi) untuk membatasi konsumsi
garam.
Menurut Wardner dan Gregor (2002), konsumsi garam menjadi faktor penting dalam meningkatkan tekanan darah. Di samping meningkatkan tekanan darah, konsumsi garam mempunyai efek merugikan lainnya, beberapa di antaranya dalam sistem kardiovaskuler. Bahkan, menurut rangkuman dari berbagai studi menemukan bahwa dengan menurunkan asupan garam sebanyak 6 gram per hari (atau setara dengan 1 sendok teh garam), risiko terkena stroke menurun hingga 26 persen. Bayangkan, seberapa besar manfaat kesehatan yang bisa didapatkan dengan membatasi konsumsi garam hingga sesuai anjuran.
Suatu penelitian yang telah dilakukan secara acak terkontrol memberikan bukti bahwa ada hubungan sebab akibat antara asupan natrium terhadap tekanan darah. Selama 30 tahun terakhir, lebih dari 80 penelitian mengeksplorasi manfaat dan efektivitas perubahan konsumsi natrium pada tekanan darah. Salah satu temuan dari penelitian ini adalah ada perbedaan antara responden dengan tekanan darah tinggi dan normotensi berkaitan dengan diet untuk mengurangi asupan natrium dikaitkan dengan penurunan tekanan darah. Hasilnya efek pada orang normotensi lebih kecil dibandingkan dengan orang hipertensi.
Namun, yang harus kamu waspadai adalah kandungan garam (natrium/sodium) yang tersembunyi dalam makanan siap saji dan makanan kemasan. Banyak makanan siap saji yang mengandung garam cukup tinggi, jauh di atas rekomendasi Departemen Kesehatan RI yaitu satu sendok teh garam.
Masih nggak percaya? Coba simak grafik di bawah ini yang dikutip dari buku Buka Fakta! 101 Mitos Kesehatan karangan Nutrifood Research Center, Rabu (3/6):
Menurut Wardner dan Gregor (2002), konsumsi garam menjadi faktor penting dalam meningkatkan tekanan darah. Di samping meningkatkan tekanan darah, konsumsi garam mempunyai efek merugikan lainnya, beberapa di antaranya dalam sistem kardiovaskuler. Bahkan, menurut rangkuman dari berbagai studi menemukan bahwa dengan menurunkan asupan garam sebanyak 6 gram per hari (atau setara dengan 1 sendok teh garam), risiko terkena stroke menurun hingga 26 persen. Bayangkan, seberapa besar manfaat kesehatan yang bisa didapatkan dengan membatasi konsumsi garam hingga sesuai anjuran.
Suatu penelitian yang telah dilakukan secara acak terkontrol memberikan bukti bahwa ada hubungan sebab akibat antara asupan natrium terhadap tekanan darah. Selama 30 tahun terakhir, lebih dari 80 penelitian mengeksplorasi manfaat dan efektivitas perubahan konsumsi natrium pada tekanan darah. Salah satu temuan dari penelitian ini adalah ada perbedaan antara responden dengan tekanan darah tinggi dan normotensi berkaitan dengan diet untuk mengurangi asupan natrium dikaitkan dengan penurunan tekanan darah. Hasilnya efek pada orang normotensi lebih kecil dibandingkan dengan orang hipertensi.
Namun, yang harus kamu waspadai adalah kandungan garam (natrium/sodium) yang tersembunyi dalam makanan siap saji dan makanan kemasan. Banyak makanan siap saji yang mengandung garam cukup tinggi, jauh di atas rekomendasi Departemen Kesehatan RI yaitu satu sendok teh garam.
Masih nggak percaya? Coba simak grafik di bawah ini yang dikutip dari buku Buka Fakta! 101 Mitos Kesehatan karangan Nutrifood Research Center, Rabu (3/6):
Bisa dilihat dari gambar di atas, satu mangkuk mi instan sudah memenuhi batas atas asupan garam per hari, yakni 6 gram. Oleh karena itu, sebaiknya kalau kamu sudah makan mi instan, disarankan untuk nggak mengonsumsi garam lagi selama sehari setelahnya. Mi instan dan sop buntut memang merupakan contoh dua makanan dengan kadar garam cukup tinggi. Karena itu, hindari mengonsumsi produk olahan terlalu sering, dan usahakan untuk membatasi konsumsi garam hingga satu sendok teh per hari.
Mulai sekarang, hati-hati memilih makanan ya. Kesehatanmu lho!