zaman telah menggeser eksistensi diary. Pada zaman dahulu,
benda yang satu ini sangat eksis. Bahkan setiap orang mempunyai buku
diary yang unik-unik. Fungsi diary ini adalah untuk mencatat setiap
kejadian atau perasaan dari pemiliknya. Bahkan diary bisa dijadikan
teman curhat.
Alih-alih menulis diary, anak zaman sekarang lebih sering update status di jejaring sosial mereka. Mau galau atau happy, semuanya diumbar di dunia maya. Bahkan banyak umpatan kasar juga muncul dalam akun mereka. Mengapa tidak membiasakan menulis diary? Mungkin kamu bisa menyebutnya usang, akan tetapi penelitian menyebutkan nulis diary bisa bikin happy lho, dikutip dari Guardian,
Saat kamu mencurahkan perasaan kamu dalam sebuah buku diary, bagian amygdala pada otak akan aktif. Area tersebut bertanggung jawab untuk mengontrol emosi kamu. Efeknya, kamu bisa mengontrol perasaan kamu sesuai dengan gerakan tangan saat menulis.
Berdasarkan penuturan seorang psikolog, Mattew Leiberman asal Universitas California, diary sangat efektif sebagai media untuk mengekspresikan emosi negatif. Saat menulis diary, bagian otak kanan yang disebut dengan ventrolateral perforntal cortex membuat kamu merasakan emosi yang begitu kuat.
Dalam risetnya, Mattew juga mejelaskan bahwa menuliskan sesuatu yang abstrak lebih menenangkan dibandingkan dengan penjelasan dengan bahasa yang jelas. Temuan lain juga mengungkapkan bahwa menulis diary bisa membantu menurunkan tekanan emosional.
Alih-alih menulis diary, anak zaman sekarang lebih sering update status di jejaring sosial mereka. Mau galau atau happy, semuanya diumbar di dunia maya. Bahkan banyak umpatan kasar juga muncul dalam akun mereka. Mengapa tidak membiasakan menulis diary? Mungkin kamu bisa menyebutnya usang, akan tetapi penelitian menyebutkan nulis diary bisa bikin happy lho, dikutip dari Guardian,
Saat kamu mencurahkan perasaan kamu dalam sebuah buku diary, bagian amygdala pada otak akan aktif. Area tersebut bertanggung jawab untuk mengontrol emosi kamu. Efeknya, kamu bisa mengontrol perasaan kamu sesuai dengan gerakan tangan saat menulis.
Berdasarkan penuturan seorang psikolog, Mattew Leiberman asal Universitas California, diary sangat efektif sebagai media untuk mengekspresikan emosi negatif. Saat menulis diary, bagian otak kanan yang disebut dengan ventrolateral perforntal cortex membuat kamu merasakan emosi yang begitu kuat.
Dalam risetnya, Mattew juga mejelaskan bahwa menuliskan sesuatu yang abstrak lebih menenangkan dibandingkan dengan penjelasan dengan bahasa yang jelas. Temuan lain juga mengungkapkan bahwa menulis diary bisa membantu menurunkan tekanan emosional.
0 komentar:
Post a Comment